Tuesday, August 25, 2015

Latitude 41.4: Yang hilang sewaktu-waktu

Yang Hilang Sewaktu-Waktu 



Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu pergi, yang sewaktu-waktu diambil. 
Aku belajar bagaimana caranya melepaskan. 
Aku belajar bagaimana menyikapi kepergian. 
Aku belajar mengosongkan diri dari apapun yang memenuhi. 
Hingga setiap ruang dalam hati terasa lebih lapang dari biasanya. 
Lalu mengisinya lagi dengan lebih tertata dan bijaksana.


Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu mati, yang sewaktu-waktu harus hilang. 
Aku belajar tentang kesendirian. 
Betapa hidup dalam diri sendiri begitu meresahkan. 


Aku belajar bagaimana membuat hari-hari terasa lebih lapang. 
Selalu siap dengan kehilangan. 
Selalu siap dengan kepergian. 
Sebab aku, sejatinya, tidak pernah memiliki apa-apa. 
Tuhan hanya menitipkanmu untuk aku cintai. 


Aku khawatir bila aku mencintaimu tidak dengan petunjuk-Nya. 
Aku takut ketika mencintaimu justru mengundang murka-Nya. 
Aku sudah berusaha sebaik-baiknya menjaga diri. 



::Latitude 41.4::

Monday, October 20, 2014

Superb Taujih Ba'da Subuh

Really really worth to note and make it real!

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sharing taujih ba'da Shubuh
Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf Al-Hafizh, Lc
19 oktober 2014
Mabit qur'an @ ulil albab
RQ inspirasi, SQ UII, Rumah TahfizhQU
Jika kita baca Al-kahfi maka bisa terlindung dari fitnah dajjal.
Dajjal ini sudah disosialisasikan dari zaman nabi Nuh.
Fitnah dajjal adalah, fitnah tauhid, dajjal merayu dengan segala atraksinya untuk berpaling dari Allah dan Rasulullah SAW.
Allah memanggil Rasulullah dengan nama 'abdihi
Harapannya bisa dicontoh oleh umatnya, agar bisa sebenar-benarnya sebagai 'abdihi.
Makna dari ayat pertama surat alkahfi,
Merupakan rasa syukur atas turunnya Al-Quran
Apakah kita bersyukur dengan adanya Al-Qur'an?
Al-Qur'an ini diturunkan bukan untuk menyusahkan, tapi untuk membuat bahagia
'Ala 'abdihi, Alquran diturunkan kepada Rasululllah yang tingkat penghambaanya sudah sampai 'ubudiyah
Dan kita pun bisa sampai tingkat 'ubudiyah, untuk menjadi ahlu qur'an
Qt sudah sampai 'ubudiyah jika kita sudah bisa melakukan ibadah taqarrub 'iLallah yang diluar akal nalar manusia.
Misalkan: Bangun jam 2 pagi, terus terjaga sampai setelah subuh.
Ini kalau bukan karena semangat ingin dekat dengan Allah, diluar nalar manusia
tapi Allah menolongnya,
sehingga bisa dilakukan.
Inilah kenapa Fadhilah Qiyamullail, shalat Fajar, Shalat subuh, apalagi sampai menunggu syuruq, sangaaaaaaattttt tinggi Fadhilahnya,
Ini adalah ibadah Ribath.
Karena ini bukti 'ubudhiyah kita kepada Allah, dan Allah beri apresiasi yang besar kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan ini..
Kalau sudah bisa seperti itu, lakukan setiap hari,
Sampai meninggal..
'Ubudiyah : melakukan ibadah yang perjuanganya dahsyat, dan Allah pasti memberikan point sangat besar, dan membukakan pintu untuk kita bisa dekat dengan Al-Qur'an.
Semangat melakukan ibadah, semangat 'ubudiyah, semangat penghambaan tinggi kepada Allah
Seperti sahabat Hudzaifah, menjadi ma'mum Rasulullah dalam shalat malam 1 raka'at. Baca Al-Baqarah, Ali 'Imran, An-Nisa.
Walaupun ada rasa mengeluh di dalam hatinya, tetapi bisa selesai juga.
Ini karena semangat 'ubudiyahnya Hudzaifah.
Coba cek tingkat 'ubudiyah kita.
Apakah bisa kita tilawah satu juz perhari?
Jika diluar nalar, coba dikerjakan, jika berhasil, maka sudah masuk tingkat 'ubudiyah
Kemudian tingkatkan lagi.
Mengafal Al-Qur'an semangatnya adalah penghambaan kita kepada Allah SWT.
Rasanya hari ini tidak masuk akal, orang bisa menghafal satu Al-Qur'an seperti membaca Alfatihah.
Ini secara akal, rasanya tidak mungkin, susah, panjang, repot,
bukan secara 'ubudiyah.. karena jika 'ubudiyah kuat tiada yang mustahil.Coba dilihat bagian akhir QS. Al Ankabut.
Misalkan: membaca alma'tsurat kubra tiap hari, kalau dipikir-pikir tidak mungkin, repot, harus masak, kerja, olah raga pagi dll. Ini jika kita lihat pakai akal.
Bukan pakai semangat 'ubudiyah
Jika kita terus melihat secara akal, tidak akan bisa kita melakukan ibadah-ibadah yang menurut kita tidak bisa.
Kalau kita melihat dengan semangat 'ubudiyah, maka Allah akan tolong, dan kita bisa melakukan ibadah-ibadah itu.
Seperti ibrah dari kisah Nabi Nuh a.s, yang sabar dan terus mendekatkan diri kepada Allah.
Allah akan dekat dengan kita jika kita berdo'a (Al-Baqarah)
Kemudian mintalah kebutuhan akhirat kita, kepada Allah agar kita bisa dekat Allah.
Minta surga, walaupun merasa tidak pantas, karena belum jadi tampang ahli surga ( sudah berjihad dan sabar), tapi Allah senang jika kita berdoa.
Dan Allah sangat senang jika kita serius minta surga.
Allah berdialog dengan malaikat.
Wahai malaikat, itu hamba-hamba-Ku belum lihat surga, kok sudah serius minta surga?
Kata malaikat, iya ya Allah, kalau mereka sudah melihat,
1000 x lagi lebih serius minta Surganya.
Begitu juga dengan dialog tentang seorang hamba yang minta dijauhkan dari neraka.
Mari Membangun 'ubudiyah dalam diri kita.
Semoga dimudahkan untuk bisa akrab dengan Al-Qur'an. Aamiin

Friday, October 10, 2014

Jebakan persepsi


Ketika kita merasa rumput tetangga lebih hijau, di saat yang sama tetangga melihat rumput kita lebih hijau. Padahal seni membandingkan adalah tentang mengondisikan sesama mungkin lalu memilih faktor pembeda untuk diamati. Padahal sampai kapan pun, tidak akan pernah ada dua manusia yang dilahirkan dalam kondisi yang benar-benar sama.

Apa-apa yang di permukaan selalu tampak indah. Bisa jadi itu hanya pencitraan. Atau paradoks senyum dalam luka? Meski mata adalah lensa terbaik di dunia, dia hanya mampu menjangkau permukaan saja. Memahami dengan hati bukankah lebih bijak? 
Makna sebuah pilihan ada pada alasannya. Makna sebuah hasil ada pada prosesnya. Tidak ada pilihan yang salah karena benar dan salah ada pada alasannya. Jangan pernah semata-mata merujuk pada hasil tanpa tahu prosesnya. Bisa jadi dia berdarah-darah untuk hasil yang mungkin kita anggap sepele. Dan selalu ada kebaikan Tuhan pada ikhtiar yang biasa tapi berhasil luar biasa.

Lalu, mengapa mesti jumawa atau merasa tidak berharga? Jika terlalu banyak faktor pembeda di antara kita, lantas kenapa mesti dinilai dengan standar yang sama?

Sebenarnya diam-diam kita saling mengagumi satu sama lain, tapi sayang di saat yang sama juga saling menyisihi, yang pada akhirnya saling meniadakan.

Jangan begitu, setiap kita hadir sebagai guru satu sama lain. Kenapa tidak memilih untuk saling mengisi kekosongan satu sama lain?

Rumput tetangga tidak selalu lebih hijau. Bisa jadi itu efek bias cahaya, atau paling fatal adalah karena fatamorgana. Kalau kita gabungkan agar jadi dua petak saja, bagaimana? :) 


Sumber: www.digaleri.com